Sudah sekitar 2 tahun terakhir gue sangat tertarik dengan make-up, cukup lama dan awet jika dibandingkan dengan ketertarikan gue pada hal-hal lain yang biasanya mudah luntur ketika gue menemukan kesulitan.

Perjalanan makeup gue, dimulai dari pensil eyeliner, yang hanya gue pakai di waterline kelopak bawah mata saat gue semsester terakhir kuliah. Dilanjutkan kembali saat gue mulai bekerja, tahun pertama – tahun kedua gue hanya menambahkan lipstick dalam step makeup gue. Karena kulit gue acne prone, gue cuma berani pake loose powder, biasanya cuma pake Marcks yang harga 15ribuan.
Masuk tahun ketiga kerja, gue diajarkan oleh seorang teman ttg cara menggambar alis. Pada tahun ini lah gue menemukan ketertarikan yang kuat untuk terus belajar make-up. Gue belajar dari menonton tutorial, gue nonton ‘200k Makeup Challange’, gue coba beli foundation, eye shadow sampai brush set.
Sampai akhirnya gue merasa PD untuk menunjukkkan hasil belajar gue dengan pakai full face makeup tiap ke kantor. Gue bisa 45 menit di depan kaca, cuma buat dandan, luar biasa lamanya! Makin banyak coba gue makin penasaran, keingintahuan gue gk meredup, jarang banget hal ini terjadi.
Dalam perjalanan gue mempelajari makeup untuk diri sendiri maupun untuk merias orang lain, gue sebenarnya sering mengalami pergolakan hati. Karena gue dulunya boyish, gue sering bilang ‘buat apa dandan, makeup itu fake’, gue sering mempertanyakan diri gue .

“kalo gue pake makeup apakah gue tidak bisa menerima diri apa adanya?”

Awal mula gue belajar makeup adalah karena gue merasa gue terlihat lebih baik setelah memakainya, tapi bukan berarti gue gk bisa hidup tanpa mengaplisikan makeup, karena gue juga suka perasaan saat wajah gue bersih dari tumpukan makeup. #nahgimanatuh
Sebagai orang yang sadar bahwa wajahnya punya kekurangan (gue punya banyak bekas jerawat, bopeng kasarnya bilang) gue merasa gue perlu menutupi kekurangan gue ini, dan caranya memang cuma lewat makeup.
Tapi apakah gue jadi minder dlm menjalani hidup tanpa makeup? Ya gk juga, gue kalo gk ad kegiatan ya gk makeup-an, dan gue baik-baik aja. Gue masih bisa interaksi dgn orang lain tanpa ada masalah.

“Gue menerima diri gue apa adanya, Galuh yang gk sempurna, Galuh yang gk cantik dan banyak bekas jerawatnya, tapi gue yakin menerima diri gue apa adanya tidak sama dengan membiarkan diri gue tanpa perubahan.”

Dengan menerima diri gue apa adanya, gue tau bagian apa dari diri gue yang gue harus perkuat agar gue menjadi lebih baik. Dan lewat merias wajah / makeup, gue memberikan tampilan yang lebih baik dari diri gue, sebagai bentuk gue menghargai diri gue sendiri.
Mungkin bagi yang gk punya masalah dengan wajahnya, makeup memang terlihat ‘palsu’, tapi bagi mereka yang merasa punya kekurangan, makeup bisa jadi salah satu cara untuk membangkitkan kepercayaan diri mereka sendiri. Gue yakin, selama tidak berlebihan, gk ad yang salah dengan merias diri.

Because Be Yourself Doesn’t Mean You No Need To Grow Yourself To Be Better.

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on TumblrShare on Google+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *